Tentang Pakaian Muslimah

Banyak perbedaan pendapat tentang bagaimana pakaian muslimah. Apakah memang harus serba gelap, kok di daerah timur tengah kebanyakan muslimahnya berpakaian serba gelap? Apakah memang ga boleh bercorak? Trus kok ada yang pakai cadar dan ada yang ga pakai cadar? Mengapa ada istilah jilbab (QS. Al-Ahzab:59), juga kerudung / khimar (QS. An-Nur:31) dalam al-Qur’an. Trus kok ya ada orang yang mengaku ulama tapi mengatakan wanita yang rambutnya dibiarkan terurai dan dilihat banyak orang yang bukan mahram itu tidak berdosa. Seperti apa asal muasalnya? Ini hasil saya ubek2 ilmu dari beberapa sumber:

1. Aurat wanita

Para ulama secara mayoritas telah bersepakat berdasarkan dalil-dalil yang ada untuk menetapkan bahwa batas aurat seorang wanita adalah seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan kedua tapak tangan. Dalam bahasa arab, disebutkan jami’u badaniha illa al-wajha wal kaffaini (seluruh tubuhnya kecuali wajah dan dua tapak tangan).

Mungkin yang jadi titik masalah di sini adalah tentang istilah telapak tangan. Dalam bahasa Indonesia, kalau al-kaffaini diterjemahkan sebagai telapak tangan, sebenarnya bukan penerjemahan yang tepat. Sebab yang dimaksud dengan al-kaffaini adalah tapak tangan, mencakup bagian dalam (bathinul kaff) dan juga bagian luar atau punggung (zhahirul-kaf). Sedangkan bila diterjemahkan dengan telapak tangan, maka yang dimaksud hanya bagian dalam tapak tangan saja.

Penerjemahan yang tepat adalah tapak tangan yang mencakup bagian dalam dan luarnya. Sehingga batas mulainya aurat adalah pada pergelangan tanganya (ar-risghu).

Dengan demikian, ketika ada seorang wanita shalat dengan terlihat punggung tangannya, belum termasuk terlihat auratnya. Sebab punggung tangan bukan termasuk aurat, jadi memang boleh terlihat.
[jawaban Ahmad Sarwat, Lc. dalam konsultasi di eramuslim]

2. Tentang Jilbab & Khimar (kerudung)

Dalam kehidupan umum, yaitu pada saat seorang wanita keluar rumah atau pun wanita di dalam rumah bersama pria yang bukan muhrimnya maka syara’ telah mewajibkan kepada wanita untuk berjilbab. Pakaian jilbab yang diwajibkan tersebut adalah memakai khimar/kerudung, jilbab/pakaian luar dan tsaub/pakaian dalam. Jika bertemu dengan pria yang bukan mahromnya/keluar rumah tanpa menggunakan jilbab tersebut meskipun sudah menutup aurat maka ia dianggap telah berdosa karena telah melanggar dari syara’. Jadi pada saat itu wanita Muslimah harus mengenakan tiga jenis pakaian sekaligus yaitu khimar/kerudung, jilbab/pakaian luar dan tsaub/pakaian dalam.

Khimar (kerudung)
Perintah syara’ untuk mengenakan khimar bagi wanita yang telah baligh pada kehidupan umum terdapat dalam QS An Nuur: 31. Kata juyuud dalam ayat tersebut merupakan bentuk jamak dari kata jaibaun yang berarti kerah baju kurung. Oleh sebab itu yang dimaksud ayat itu ”hendaklah wanita Mukminah menghamparkan penutup kepalanya di atas leher dan dadanya agar leher dan dadanya tertutupi”.

Berkaitan dengan ini Imam Ali Ash Shabuni dalam Kitab Tafsir Ayatil Ahkam berkata: ”Firman Allah, hendaklah mereka mengulurkan kerudung mereka” itu digunakan kata Adh dharbu adalah mubalaghah dan di muta’adikannya dengan harf bi adalah memiliki arti ”mempertemukan”, yaitu kerudung itu hendaknya terhampar sampai dada supaya leher dan dada tidak tampak (juz 2: 237).
Wanita jahiliyah berpakaian berlawanan dengan ajaran Islam. Mereka memakai kerudung tetapi dilipat ke belakang/punggung dan bagian depannya menganga lebar sehingga bagian telinga dan dada mereka nampak (lihat Asy Syaukani dalam Faidlul Qodir dan Imam Al Qurtubi dalam Jaami’u lil Ahkam juz 12: 230). Di zaman jahiliyah apabila mereka hendak keluar rumah untuk mempertontonkan diri di suatu arena mereka memakai baju dan khimar (yang tidak sempurna) sehingga tiada bedanya antara wanita merdeka dengan hamba sahaya (Muhammad Jalaluddin Al Qasimi dalam Mahaasinut Ta’wil, juz 12:308).

Jilbab
Ada pun untuk mengenakan jilbab bagi wanita dalam kehidupan umum dapat kita perhatikan QS Al Ahzab: 59. Allah SWT memberikan batasan mengenai pakaian wanita bagian bawah. Arti lafadz yudniina adalah mengulurkan atau memanjangkan sedangkan makna jilbab adalah malhafah, yaitu sesuatu yang dapat menutup aurat baik berupa kain atau yang lainnya. Dalam kamus Al Muhith disebutkan bahwa jilbab adalah pakaian lebar dan longgar untuk wanita serta dapat menutup pakaian sehari-hari (tsaub) ketika hendak keluar rumah. Ummu Atiya Ra: ”Rasulullah SAW memerintahkan kepada kami untuk keluar pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, baik para gadis yang sedang haid maupun yang sudah menikah. Mereka yang sedang haid tidak mengikuti shalat dan mendengarkan kebaikan serta nasihat-nasihat kepada kaum Muslimin. Maka Ummu Athiyah berkata: Ya Rasulullah, ada eseorang yang tidak memiliki jilbab maka Rasulullah SAW bersabda: ”Hendaklah saudaranya meminjamkan kepadanya”(HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, Turmudzi dan Nasa’i).

Adapun jilbab/pakaian luar yang disyaratkan adalah:
1. Menjulur ke bawah sampai menutupi kedua kakinya (tidak berbentuk potongan atas dan bawah, baik rok atau celana (seluar) panjang) sebab firman Allah SWT: ”Dan hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”,
yaitu hendaklah diulurkan jilbabnya ke bawah sampai menutup kaki bagian bawah. Sebab diriwayatkan dari Ibnu Umar Ra yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: ”Barang siapa mengulurkan pakaian karena sombong maka Allah tidak akan memandangnya di hari kiamat.Ummu Salamah bertanya: ‘Bagaimanakah wanita dengan ujung pakaian yang dibuatnya?’ Rasulullah SAW menjawab: ‘Hendaklah diulurkan sejengkal’. Ummu Salamah bertanya lagi: ‘Kalau demikian telapak kakinya terbuka?’ Maka jawab Nabi SAW: ‘Jika demikian perpanjanglah sampai satu hasta dan jangan ditambah’.” (HR Jamaah).Hadis ini menjelaskan bahwa jilbab diulurkan kebawah sampai menutup kedua kakinya. Meskipun kedua kakinya tertutup dengan kaus kaki atau sepatu, maka hal itu tidak menggantikan fungsi mengulurkan jilbab yang dihamparkan sampai ke bawah sehingga kakinya tidak tampak.

2. Bukanlah pakaian tipis sehingga warna kulit dan lekuk tubuhnya tampak. Dari Usamah bin Said Ra: ”Rasulullah SAW pernah memberikan kain qibthi (sejenis kain tipis). Kain ini telah beliau terima sebagai hadiah dari Dahtah Al Kalabi tetapi kemudian kain tersebut akan aku berikan kepada istriku, maka tegur Rasulullah kepadaku: ”Mengapa tidak mau pakai saja kain qibthi itu?” Saya menjawab: ”Ya Rasulullah, kain itu telah saya berikan kepada istriku”. Maka sabda Rasulullah: ”Suruhlah dia mengenakan pula baju di bagian dalamnya (kain tipis itu) karena aku khawatir nampak lekuk-lekuk tubuhnya” (HR Ahmad). Dan diriwayatkan pula dari Aisyah Ra (HR Abu Daud).

3. Bukanlah pakaian yang menyerupai laki-laki (seperti celana (seluar) panjang), tetapi bila sebagai tsaub/pakaian adalah boleh. Sebagai pakaian dalam, celana panjang tersebut panjangnya hendaklah lebih pendek daripada jilbab itu sendiri. ”Rasulullahmelaknat laki-laki yang berpakaian seperti wanita dan melaknat wanita yang berpakaian seperti pakaian laki-laki.” ‘(HR Abu Daud).

4. Tidak memakai wangi-wangian yang sampai menyebarkan bau yang dapat menarik perhatian laki-laki. Sabda Rasul SAW: ”Siapa saja wanita yang memakai wewangian kemudian berjalan melewati suatu kaum dengan maksud agar mereka mencium harumnya, maka ia telah berzina.” (HR Nasa’i, Ibnu Hibban, dan Ibnu Khuzaimah).

Pakaian tsaub
Sedangkan kewajiban mengenakan pakaian tsaub (pakaian dalam, pakaian sehari-hari ketika di rumah yang tidak ada laki-laki asingnya) dapat dipahami berdasarkan pengertian dalalatul isyarah bahwa setelah dilepaskannya jilbab/pakaian luar bukan berarti wanita tua tersebut tanpa busana sama sekali. (Imam Muhammad Abu Dzahrah dalam kitab Ushulul Fiqh: 164-147, Abdul Wahab Khallaf dalam kitab Ilmu Ushul Fiqh: 143-153, dan Syeikh Taqiyuddin an Nabhani dalam kitab Asyakhshiyah Islamiyah juz 3: 178-179).
[sumber: alhijrah]

3. Bagaimana dengan warna pakaian muslimah
Sama sekali bukanlah termasuk kategori perhiasan jika pakaian yang dipakai oleh seorang wanita itu tidak berwarna putih atau hitam. Karena hal ini terkadang disalahpahami oleh sebagaian kaum wanita yang ingin komitmen (dengan agamanya).
Alasannya adalah:
Pertama, adanya sabda Rasulullah: “Parfum wanita adalah yang tampak warnanya namun tersembunyi baunya…. (Had its ini tersebutdi dalam kitab Mukhtashar Asy-Syama’il, hadits no.188)

Kedua, adanya praktek para wanita sahabat yang memakai pakaian yang berwarna selain hitam dan putih…. Berikut ini saya kemukakan beberapa riwayatyang menunjukkan hal itu yang disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Abi Syaibah di dalam kitab Al-Mushannaf (VIII: 371-372):
1. Dari Ibrahim, yaitu Ibrahim An-Nakha’i, bahwa pernah dia bersama Al-Qamah dan Al-Aswad mengunjungi para istri Nabi dan dia melihat mereka mengenakan pakaian-pakaian panjang berwarna merah.
2. Dari Ibnu Abi Mulaikah, dia berkata, “Saya pernah melihat Ummu Salamah mengenakan baju dan pakaian panjang yang berwarna kuning.”
3. Dari Al-Qasim, yaitu Ibnu Muhammad bin Abu Bakar Ash Shiddiq, bahwa Aisyah pernah mengenakan pakaian yang berwarna kuning, padahal dia sedang melakukan ihram.
4. Dari Hisyam, dari Fathimah bintu Al-Mundzir, bahwa Asma’ pernah memakai pakaian yang berwarna kuning padahal dia sedang ihram.
5. Dari Sa’id bin Jubair bahwa dia pernah melihat sebagian dari istri-istri Nabi thawaf mengelilingi ka’bah dengan mengenakan pakaian berwarna kuning.

[Jilbab Wanita Muslimah, Syaikh Nashirudin al-Abani]

4. Bagaimana dengan pakaian bercorak?

Ada hadits yang menunjukkan tentang sahabiyah yang memakai pakaian dengan corak bergaris. (Masih dalam proses searching haditsnya, padahal kapan hari nemu)

5. Apakah wajib bercadar?

Lagi-lagi dari ‘jilbab wanita muslimah’nya syaikh al-Abani saya menyimpulkan tidak ada kewajiban menutup wajah tsb. Berikut kutipannya:
Seakan akan mereka ini, berdasarkan pendapat ulama tadi, mengharuskan wanita menutup wajahnya; padahal tidak demikian. Karena mereka juga tahu, bahwa syarat tersebut juga sebenarnya berlaku juga untuk wanita. Para wanita diperbolehkan melihat wajah laki-laki dengan syarat aman dari fitnah (syahwat). Apakah dengan seperti itu, lalu mereka mengharuskan kaum laki-laki menutup wajah dari pandangan wanita, untuk mencegah fitnah (syahwat) seperti yang dilakukan oleh sebagian kabilah yang dikenal dengan sebutan Al-Mulatsamin?!

Mohon koreksinya jika ada yang salah. Semoga bermanfaat.

9 responses to “Tentang Pakaian Muslimah

  1. 1. Dari Ibrahim, yaitu Ibrahim An-Nakha’i, bahwa pernah dia bersama Al-Qamah dan Al-Aswad mengunjungi para istri Nabi dan dia melihat mereka mengenakan pakaian-pakaian panjang berwarna merah..

    Tambahan dikit. Merah yang dimaksud bukan merah polos, karena Rasulullah melarang mengenakan warna merah polos (tanpa corak). Rasulullah pernah menggunakan baju merah, tapi bercorak hitam. Jadi ada garis hitam2nya.
    Ada di buku Ensiklopedi Larangan, Syeikh Salim bin ‘ied Al-Hilali

  2. Ada hadits yang menunjukkan larangan memakai pakaian warna merah polos? Bisa minta haditsnya? Soale saya punya baju merah polos. Sekalian kalau nemu hadits ttg sahabiyah yang memakai pakaian bercorak garis, coz pernah baca tapi lupa dimana. Jazakallah

  3. Pingback: Jika Ujung Pakaian Terkena Najis di Jalan…. « Belajar Hidup

  4. kalo tentang pakaian yang menjuntai ke bawah diperkirakan terkena najis dan kotor, maka dalam sebuah hadis disebutkan bahwa setiap langkah wanita yang menjuntaikan pakaiannya untuk kesempurnaan menutupnya itu merupakan penghapus najis dari yang sebelumnya. Allah SWT sudah maha pemurah kok.
    INGAT

    tentang menaati perintah Allah dan Rasululloh. juga beliau pernah berkata, yang artinya : “semua umatku pasti akan masuk surga , kecuali yang menolak”

    kampungsehatindosat@yahoo.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s