PUTUS

July 1, 2008

Samudra yang diam bukan berarti tak memenjaranya,
Berapa anak berlarian riang memijak bumi,
Berapa pemuda menatap awan menanti masa depan,
Cerah tak terbayang …
Awang-awang yang menyibukkan
Namun dalam hitungan detik
Samudra membebaskannya

Bumi yang damai belum tentu mengikatnya,
Berapa anak menenggelamkan diri di pelukan ibu,
Berapa pemuda menyiapkan diri tuk tampil esok hari,
Menata pagi menjemput rizki
Namun tanpa basa basi
Bumi melepaskannya

Di kala
Tangan-tangan mengukir sejarah hidup
Kaki-kaki berlari menuju masa depan
Mata-mata mencari selipan kesempatan
Entah kesempatan laba
Atau kesempatan pahala
Sungguh hanya Allah yang bisa memutus
Dengan mentapkannya
Melalui air yang membiru,
Angin yang biasanya bertiup sepoi,
Api yang biasanya menghangatkan,
Atau apapun

Sungguh kematian,
Izrail pun tak akan mengetuk pintu ketika mengantarkannya

Di akhir episode terngiang
semua darimu kembali padamu
Entah itu kan menggubah senyuman
atau menambah rintihan

Dan pada hari itu diperlihatkan neraka jahannam, dan pada hari itu manusia sadar, namun kesadaran itu tiada guna lagi baginya.Ia berkata “ah, andai saja dahulu aku menyiapkan (bekal) untuk hidupku kini”
(Al-Fajr:23-24)

* terinspirasi dari tsunami Aceh 2006, baru diposting habis nemu diharddisk

Entry Filed under: Tip & Trik. .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

July 2008
M T W T F S S
« Jun    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Archives

Recent Comments

malizam@ on Tentang Pakaian Muslimah
linda on Saat Yang Paling Menentuk…
nas on Saat Yang Paling Menentuk…
subkioke on About
hendy on Dunia Sangat Luas

Links

Top Clicks

Blog Stats

Meta