Membuang Bermilyar Uang??
October 4, 2008
Beberapa hari ini, suka atau tidak suka, saya harus suka buka2 amandemen UUD 45. Persiapan sapa tahu ada tes CPNS yang konon diadakan sebentar lagi. Sekalian saya penasaran dengan isinya, karena harga untuk membuat dan mengeditnya mahal banget. Milyaran. Namun setelah saya baca-baca ternyata…. biasa. Saya pikir2 sebenarnya bila beberapa orang pakar dikumpulkan untuk membuatnya, pasti hasilnya ndak jauh beda. Misal dibuat oleh 10 orang. 1 orang 10jt kan harganya 100jt. Murah banget kan untuk ukuran negara hehehe…. Syukur-syukur kalau 10 orang tadi ga mau dibayar dan ikhlas lillahi ta’ala.
Ternyata ga cuma Indonesia yang harus merogoh kocek yang tidak sedikit untuk membuat UU. Negara yang punya banyak stok orang jenius macem amrik pun sering merogoh kocek yang tidak sedikit untuk membuat UU. Namun hasilnya seringkali memusingkan kepala mereka sendiri hingga sekarang amrik sedang dilanda krisis ekonomi.
Pernah ada ’guru’ yang menceritakan bahwa pada peraturan dan UU yang dibuat pemerintah akan banyak ditemui kelemahan karena beberapa alasan. Antara lain:
- Pemerintah tidak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.
- Pemerintah terdiri dari manusia yang punya subyektivitas.Diakui atau tidak, subyektivitas itu selalu ada pada diri setiap orang. Mereka selalu berat pada segala yang dekat dengan kehidupannya. Karena bagaimanapun juga mereka butuh sesuatu untuk bertahan hidup. Juga punya rasa sayang pada keluarga, kerabat, dll. Nah kalau keluarganya guru, dia akan cenderung membuat aturan yang menguntungkan para guru. Atau juga meringankan dirinya.
- Tingkat pengetahuan yang diketahui manusia sampai saat ini masih jauh dari sempurna. Buktinya masih banyak manusia yang meninggal karena sakit. Juga belum bisa mengatasi krisis pangan dan energi secara total. Berarti kan iptek belum bisa mengcover semua permasalahan manusia. Apalagi ilmu sosial.
Supaya bisa menghasilkan UU yang sempurna, sepertinya tiga permasalahan tadi harus teratasi terlebih dahulu. Atau kita memerlukan peralatan sebagai berikut:
- Mesin waktu dan penjelajah waktunya yang bersedia mencatat kejadian di semua tahun, bulan, hari bahkan detik
- Robot pembuat UU yang tidak punya nafsu dan rasa takut. Robot ini juga harus punya kecerdasan 10x Albert Enstein karena dia harus tahu sejarah sedetail2nya. Harus melakukan analisa dan mengambil keputusan dengan begitu banyak variabel. Termasuk data masa depan yang telah didapat dari mesin waktu. Tapi tidak ada salahnya juga kita menengok sebuah fiksi ilmiah macem spiderman. Dr. Octopus malah bisa menghancurkan dunia dengan menggunakan robotnya yang punya kecerdasan. Kalau robot pembuat UU ini berubah jadi jahat atau dimanfaatkan orang jahat tidak menutup kemungkinan dia akan dikembangkan untuk tujuan kejahatan dan berubah jadi monster. Kalau sudah begiani bagaimana? Jika di dunia fiksi ada spiderman lalu bagaimana dengan dunia nyata? Apa harus cari Osama bin Laden?
Ternyata solusi di atas selain amat sangat mahal dan penuh resiko, juga tidak mungkin
. Kalau begitu pesen UU saja. Tapi kemana? Tidak mungkin juga. Kebanyakan semua manusia sama. Tidak baik2 amat, tidak cerdas2 amat, tidak independen2 amat, dan tidak jauh dari tendensi dan kepentingan.
Kembali ke ’guru’ yang bercerita. Itulah kenapa Allah mengajak manusia hidup dengan Quran. Manusia membutuhkan Tuhan untuk menyelesaikan masalah di atas. Pihak yang maha perkasa (al-Aziz), maha kaya (al-Ghaniiy), maha pandai (ar-Rasyid), maha mengetahui (al-Aliim) juga maha pengasih dan penyayang (ar-Rahman, ar-Rahiim).
Solusi sempurna untuk masalah di atas bukan? Al-Quran dan as-Sunnah adalah pilihan tepat bagi manusia di muka bumi. Kenapa Islam? Kalau bagi saya ya karena ini agama yang benar. Tapi bagi yang tidak setuju jawaban pertama saya itu mungkin bisa memikirkan jawaban kedua. Agama Islam aturannya lengkap. Allahu’alam.
Di kesempatan yang fitri ini saya juga ingin menyampaikan SELAMAT IDUL FITRI MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN, moga semua amalan diterima
Entry Filed under: Opini. .
15 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
okta sihotang | October 4, 2008 at 5:48 am
sini ama aku aja
2.
dyah suminar | October 4, 2008 at 1:05 pm
Oh ya…jadi bisa pesen buat undang undang ya …tinggal tipe apa begitu ?? Istimewa atau biasa.
Waaah…berabe bener negara kita,kalo modelnya seperti ini,,kapan negara ini bisa beres ? semuanya kok berpikir untuk kepentingannya.
3.
mybenjeng | October 4, 2008 at 3:03 pm
met idul fitri, dengan saling memaafkan semoga yang buat UU semakin arif dan bijaksana, amin….
mohon maaf lahir batin ya…
4.
djunaedird | October 4, 2008 at 4:13 pm
Semoga di bulan Romadhon kemarin, bisa membuka mata hati para pembuat UU itu. Dan semalat idul fitri.
5.
parvian | October 5, 2008 at 6:07 am
Kadang-kadang tes CPNS itu sendiri menghasilkan permasalahan tersendiri baik yang bersifat politis maupun yang bersifat sosial. Setuju banget kalau Al-Quran dan as-Sunnah lengkap dan menyeluruh
Minal Aidin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir & Batin
6.
peyek | October 7, 2008 at 12:16 am
jadi, percuma saja ya?
dibuat terus direvisi, butuh uang lagi, begitu seterusnya! :d
7.
firanza | October 7, 2008 at 3:20 am
Eh.. mau ada tes CPNS ya..
Tolong kabari aku, kalo udah ada ya.
Aku butuh banget nih.
di Lamongan juga gak papa
8.
mikekono | October 7, 2008 at 9:27 am
Pemerintah Indonesia memang dari dulu begitu
subjektif dan sering bingung atau pura2 bingung
alhasil nasib rakyat tak kunjung membaik
sblm berkuasa bnyk janji, setelah berkuasa
konsentrasi mereka lbh tertuju pd upaya
bagaimana mempertahankan kekuasaan
9.
Yari NK | October 8, 2008 at 5:46 am
Di setiap negara atau masyarakat, kompleksitas permasalahan selalu ada bukan hanya di Indonesia. Di negara2 maju yang supermajemuk masyarakatnya juga mengalami hal serupa. Masalahnya kita sering tidak percaya pada diri kita sendiri, dan biasanya kita (termasuk saya tentu saja) lebih banyak mengkritik daripada memberi solusi. Andaikan memberi solusi hanya kulit luarnya saja, tetapi kurang detail dan kurang praktikal……
10.
santribuntet | October 8, 2008 at 5:02 pm
sudah segede itu modalnya, hasilnya disconnect bainal teks wal konteks..
11.
Elys Welt | October 8, 2008 at 8:34 pm
banyak banget ya , sampai bermilyar2 gitu
12.
Bunyu Online | October 10, 2008 at 5:09 am
Betul. Kalau semua peraturan dan UU di dunia belum punya pasal2 utk menjadi pegangan dalam menyelesaikan masalah baru yg belum pernah ada sebelumnya, Al-Qur’an pasti sudah punya solusinya. Dan pasti bisa diberlakukan secara universal pada semua umat dan golongan.
Mumpung belum telat nih,
Minal aidin wal faidzin,
Mohon maaf lahir dan bathin.
13.
riza | October 10, 2008 at 8:12 am
@ okta sihotang
yakin, sanggup?
@ dyah suminar
pesen UU pada sesama juga ga mungkin bu. malah nambah2i masalah. kalau yg dipeseni disogok orang kan malah berabe
@ mybenjeng
sama2
@ djunaedird
amiin
@ parvian
yupz. sama2
@ peyek
direvisi terus kurang efektif pak. tarik ulur karena permasalahan di atas. kecuali kalo landasannya mantebs pesen dari Dzat yang tidak punya tendensi
@ firanza
denger2 di lamongan ada pengumuman tgl 18 nov 2008
@ mikekono
begitulah manusia, punya banyak tendensi dan rasa takut. takut kehilangan jabatan dll
@ Yari NK
ada kok pak yang sanggup memberi solusi praktis, mo saya kenalkan ta?
@ santribuntet
@ Elys Welt
bisa sampai 20 milyar sekali sidang
@ Bunyu Online
betuls sekali (betulnya pake s tanda majemuk alias banyak)
14.
rosyidi | October 11, 2008 at 12:22 am
Selamat Idul Fitri dan mohon maaf lahir dan batin juga.
Taqobalallahu minna wa minkum. Semoga Allah menerima amal ibadah kita.
15.
bayu200687 | October 17, 2008 at 3:40 am
setuju mba.
agaknya bangsa ini memang bingung ketika membuat peratuaran.
sebab tidak punya dasar pijakan yang jelas.