Belajar Dari al-Qarni

Maaf yang ini bukan Uwaish al-Qarni, tapi Aidh al-Qarni. Menjelang lebaran kemarin saya membeli sebuah buku yang menurut saya luar biasa. Buku yang sangat tepat pada kondisi yang tepat. Judulnya “Pesona Cinta, Potret Indah Kasih Sayang Kaum Beriman” karya Dr. Aidh al-Qarni, ulama hati semilyar umat. Meski seperti membeli kucing dalam karung karena bukunya bersegel tapi rupanya banyak sekali hikmah yang bisa diambil dari buku tersebut. Tentang buku bersegel, hati-hati ketika membeli buku bersegel. Lebih baik dipikirkan 1000x ketika akan membelinya karena bisa saja isinya jauh dari yang diharapkan. Perhatikan penulis dan resensinya yang biasanya ada di halaman belakang.

Kisah al-Qarni yang dicantumkan dalam buku tersebut menurut saya sangat tepat untuk jadi perenungan kita semua yang mengharapkan kejayaan Islam bisa terwujud kembali. Berikut secuil pengalaman hidup al-Qarni yang ada di halaman muka dengan sub judul, Potret kekinian al-Qarni: Sepenggal Pergulatan Hati.

Ada berita kekinian yang menarik dari sosok Aidh al-Qarni yang menghiasi halaman media massa di penghujung tahun 2005. Penulis buku best seller Laa Tahzan (Jangan Bersedih) yang telah dicetak lebih dari 120 ribu eksemplar dalam 29 bahasa dan masih terus dicetak hingga kini diakhir November 2005, mengeluarkan keputusan yang mengejutkan banyak pihak. Dalam sebuah puisinya yang terdiri dari 70 bait berjudul ar-Qararu l-Akhir (Keputusan Terakhir), sebagaimana dimuat dalam harian Al-Madinah (edisi 25 November), Ia memutuskan untuk mengucilkan diri (uzlah) dari dakwah dan masyarakat. Selanjutnya ia lebih berkonsentrasi belajar di rumah dan perpustakaannya. Keputusan itu diambil setelah banyaknya kritikan dan kecaman dari koleganya sesama juru dakwah.

Alasan keputusan itu ia terangkan pada koran Saudi, “Kami dituduh macam-macam. Kelompok modernis menuduh kami Khowarij. Kalangan yang mengkafirkan menyebut kami ulama pemerintah. Justru disaat sejumlah politisi mencurigai kami. Lalu ada pula yang menyangka kami sebagai pengendara gelombang (kiasan untuk seorang yang memanfaatkan situasi). Sebagian lagi menuduh kami tak segan mengganti kulit untuk meraih keuntungan”. Sumber yang dekat dengan al-Qarni menyebutkan, keputusan pengucilan itu ditentukan selama sebulan dan dapat diperpanjang. Walau begitu, keputusan itu bisa saja direvisi jika al-Qarni melihat sisi kelirunya.

Pengucilan diri Syaikh al-Qarni layak menjadi renungan semua pihak. Betapa problem terbesar umat Islam justru berasal dari dalam dirinya, berupa persengketaan dan perselisihan antar sesama. Padahal kita telah dikaruniai pikiran dan hati yang jernih. “Jangan berselisih dan saling mencela”, kata al-Qarni dalam berbagai tulisan dan ceramahnya, antara lain dalam bukunya Fi Rihabi ‘l-Ukhuwah (diterjemahkan dengan judul Pesona Cinta: Potret Indah Kasih Sayang Kaum Beriman)

Pengalaman al-Qarni tersebut dialami oleh hampir setiap pergerakan Islam. Menurut saya banyak umat Islam yang sangat didominasi oleh fanatisme golongannya. Memandang bahwa golongan lain sangat banyak cacatnya dan tak jarang justru masalah internal dalam saudara seiman ini menguras cukup banyak energi. Padahal permasalahan umat Islam masih sangat banyak dan kompleks. Banyak orang ber-ktp Islam tapi aqidahnya belum matang hingga shalat 5 waktu saja enggan. Masih banyak juga intelektual muslim yang pemikirannya cenderung sekuler atau bahkan liberal. Semua perlu dibenahi. Menguatkan aqidah, mengusahakan hidayah, menerapkan syariah itu bukan pekerjaan yang mudah, butuh energi. Sangat eman jika energi tersebut banyak dibuang untuk mengurusi konflik internal umat Islam. Toh Rasulullah juga sangat mencela seorang muslim yang ashabiyah.

Ditambah lagi untuk orang-orang yang berpendapat Islam itu cukup dengan menjalankan rukun iman dan rukun Islam saja, pasti akan malas sekali bahkan phobi untuk mengkaji Islam lebih jauh dengan mengikuti majlis2 ilmu. Saya mohon maaf karena saya hanya pengamat amatir miskin ilmu yang prihatin dan ikut merasakan apa yang dirasakan Dr. Aidh al-Qarni. Wallahualam bishawab.

One response to “Belajar Dari al-Qarni

  1. seharusnya al Qarni mengabaikan saja omongan orang2 itu .. sebenar2nya yang kita ucapkan pasti tetap aja ada yang gak suka
    entah karena faktor kebenaran itu sendiri ataukah faktor pembenaran karena masalah politik ekonomi sos bud hankam …..bleh P4 banget..
    lagipula tulisan beliau di buku laa tahzan sangat inspiratif.. mengajak kita semua untuk memandang dunia dengan lebih indah …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s