Kualitas Dekat Harga Jauh

Kemarin dalam perbincangan antara saya dengan mbak yayuk, temen kos, dia cerita tentang rujak cingur yang harganya Rp. 35.000,00. Saya yang dengar langsung terbelalak heran. Loh itu harga sebungkus apa sekarung? Kata mbak yayuk 35rb itu harga sebungkus dan ukurannya normal. Panjang kali lebar kali tingginya sama kayak bungkusan rujak cingur yang harganya ga sampai 5rb. Kalau dipikir2 meskipun harganya beda jauh paling pol rasanya yaa begitu ajah. Namanya juga rujak cingur. Mana ada rujak cingur rasa barbeque ;)). Padahal dulu pas ada acara lomba masakan khas kecap bango di surabaya, saya yang berkesempatan mencicipi rujak cingur yang jadi juara pertama acara itu, sudah menilai memang rujak cingurnya lebih enak dari rujak cingur pada umumnya. Hanya dengan 5ribu sudah mak nyuss :p. (NB: saya bukan apa2, bukan juri ataupun ketua panitia acara, hanya pengunjung biasa yang kebetulan beli kesitu karena stand2 lain dah pada habis. maklum datang telat). Orangnya memang buka rumah makan yang khusus menyediakan rujak cingur. Btw jgn2 pemilik rumah makan yang diceritakan mbak yayuk itu adalah yang saya temui di bazar kecap bango beberapa tahun lalu ini yah. Whatever lah, yang jelas dimana2 rasa rujak cingur tidak akan menyelisihi cita rasa rujak cingur pada umumnya. Tapi kok ada yang 35rb?

Fenomena ini mengingatkan saya dengan banyak kejadian serupa. Salah satunya saya temui ketika jalan2 ke salah satu cabang butik busana muslim ternama di Indonesia. Waktu itu iseng2 saja sama teman untuk mengisi waktu luang + refreshing. Mana mungkin sih mahasiswi ga borju kayak kami niat mo beli baju ke situ. Cuma buat pengalaman, karena saya kagum dengan sejarah perusahaan itu. Waktu masuk, sebenarnya dah minder duluan dan belum2 dah berpikir, pasti semua karyawan butik berpikiran ‘idih pengunjung kayak gini paling ga beli qqqqq’. Tapi kami yang tetep nyantai aja mulai membuka2 barisan busana yang berjajar rapi. Pada singkapan pertama, modelnya biasa2 aja. Dan begitu lihat bandrolnya… hah hah. Tapi kami cuma diam berlagak tidak cocok alias tidak tertarik, padahal memang secara matematis isi dompet < harga baju. Akhirnya naik ke lantai 2 dan ternyata lebih parah. Saya melihat busana yang modelnya ga jauh seperti busananya vampir cina tapi harganya 2 juta. Dalam hati saya berikrar ga bakal mbalik lagi. Saya dan temen saya lalu mencoba cari kesempatan keluar butik tersebut sambil berharap tidak ada karyawan yang bertanya ‘lho mbak, ga jadi beli’. Pernah juga pas ada pameran di kampung halaman ada tanaman yang harganya 8 jt, belum lagi ikan louhan dan arwana yang harganya juga bisa menembus level jutaan. Kok aneh ya.

Tentang baju, kenapa pilih harga jutaan kalau model dan ketahanannya ga jauh beda dengan yang harganya ga sampai 100rb? Padahal baju biasa pun bisa tahan sampai bertahun2. Tentang tanaman, kenapa ga pilih pohon beringin aja yang juga antik, rindang dan teruji. Menurut saya sudah teruji karena sudah dipilih sebagai lambang kalpataru dan salah satu partai populer di negeri ini. Mana ada partai mo pakai lambang bonsai kamboja. Trus kalau ikan, kenapa ga pelihara aja ikan mas atau koki yang sama2 punya buntutnya kayak louhan dan arwana. Apa sebenarnya yang dicari dengan menghamburkan sedemikian rupiah. Saya sebagai orang simpel dan sangat biasa sangat heran dengan fenomena sejenis yang terjadi di negeri banyak hutang ini. Di satu sisi orang2nya rela menghabiskan banyak uang untuk kepuasan yang ga jelas. Di sisi lain, banyak yang untuk memenuhi kebutuhan pokok termasuk pendidikan dan kesehatan saja sudah kalang kabut. Bertambah lagi sederetan koleksi pertanyaan ‘WHY?’ di kepala saya.

11 responses to “Kualitas Dekat Harga Jauh

  1. kapan hari liat rujak cingur 35rb di tv show jalan2nya fauzi baadillah, emang kemahalan sih untuk suatu rujak cingur yang bahan2nya ga jauh beda😀

    tapi untuk barang2 lain, kalo emang kualitas nya sangat bagus wajarlah kalo mahal😛
    tp jgn lupa pertimbangankan juga faktor kebutuhan dan urgensi-nya

    *arrgghh masih ngidam AKG 412P, dah muter2 surabaya blum nemu juga

  2. kadang dirham lebih bagus dari dinar, kadang juga 5000 lebih bagus dari 35 ribu. infak 5000 bagi mereka yg gajinya 10 ribu, lebih baik dari infak 35000 tapi gajinya sejuta. BUkan nilai duitnya tapi nilai pengorbanannya. ga nyambung sih, nekad ajah!

  3. @ fikri
    nah itu kayaknya mahalnya gara2 nama aja. bahan ga beda jauh

    @ burhanshadiq
    makasih taujihnya pak ustadz🙂

    @ nop
    duh yang dah jadi org jkt…
    biar gampang cari di google ajah😀

  4. Perasaan gua juga sempet ikut di acaranya bango deh, kok gak ketemu yah?
    Nyicipin rujak soto, asem……kemahalan untuk makanan yang aneh.

    # riza:
    acaranya kecap bango yang kapan neh? lha yang tak datengi itu
    +- 2/3 thn lalu

  5. Sering jg aq kejebak yg kyk gt.untung bw duit..kal0 kgak bkal malu bgt bl dtmpt it..masak ngutang dlu..
    -alkisah,q prnh sm0thing rambut mpe 700rb,padal dharga trtera 375rb..
    -q jg prnh mkan nasi kebuli ma tmen2,hbs 160rb bwt 6 0rg..
    Yach,yg kyk gtuan it trgantung masyur tdkx tmpt yg qt kunjungi..bny tmpt2 yg hbs dkunjungi salah st acra TV TTg kuliner,trus naikan tarifx
    C0z mrka pkir tmpt mrka dah Tenar..
    Hehe..

    # riza:
    khan malu bertanya sesat di jalan lev,
    makanya nanya harga dulu baru beli, ga usah malu2 qqqqq
    * tapi aq blum tentu bs praktekin jg :p

  6. Ya, masalah gaya hidup.
    Seseorang yang biasa naik mobil biasanya masuk angin kalau harus naik bemo atau sepeda motor.
    Seseorang yang biasa makan masakan higienis di restoran atau rumahnya sendiri biasanya sakit perut kalau harus makan di pinggir jalan!
    Masalah baju, dilihat juga kainnya, baju mahal sama murah beda rasanya kalau dipakai. Model juga menentukan (ini yang paling mahal)!
    Ketika uang sudah terlalu banyak, harga tidak akan menjadi masalah, yang dikejar hanya gengsi dan kenyamanan.
    Harga gengsi dan kenyamanan itu yang mahal !

    Allahu’alam

    # riza:
    Hmmm…. gitu ya!

  7. “Tidaklah kehidupan dunia ini melainkan sesuatu yang memperdayakan.” Secangkir kopi di sebuah hotel berbintang harganya bisa mencapai 25rb-30rb bahkan lebih. Soal rasa jangan ditanya, tidak jauh berbeda di warung kopi pinggiran yang biasa ditongkrongin para pria penggemar kopi. Mungkin seperti yang dibilang Yudha, ‘gaya hidup’. Gaya hidup lebih mahal bila dibandingkan dengan nilai materi itu sendiri. Bukankah dunia ini memperdaya?

    # riza:
    yupz, buat apa mengejar brand kalo kualitas sama. Kalau ada ** kenapa pilih yang lebih mahal?:mrgreen:

  8. huaaaa… rujak cingur, pengeeeennn….. hehehehe… dsini belum sempat jalan2 untuk nyari yg jualan rujak cingur, tahu tek, tahu campur, de-el-el.
    btw mungkin rujak yg ‘maharani’ itu karna ada ‘merk’nya😀

    # riza:
    huaaa… krn merknya ya? memang makan merknya? btw apa merknya dah dapet sertifikasi ISO, klo iya mebi ada benernya harganya mahal😀

  9. pernah baca “invasi politik dan budaya”nya salim fredericks? ato apa aja lah… pokoknya yg menjabarkan fakta bahwa para kapitalis nike, adidas, GAP, dll yg sok bermerk itu membuat produksinya sebenarnya di negara2 berkembang dg buruh2 negara2 tsb, bahan2 dari negara tsb. misal adidas ni…buatnya sebenarnya di Indonesia,bahan2nya dari Indonesia trus distempel si Adidas, jadi deh…barang ber”merk”. so, ngapain juga bangga dg barang2 ber”merk” kayak gitu? mending klo buatan dalam negri. at least balik modalnya dan muter2 uangnya juga di dlm negri aja. La ini, kita cuma ditipu, dieksploitasi oleh para kapitalis di atas. buruh2 tsb harus kerja 15 jam/hari, gaji murah, gak ada jaminan kesehatan&keselamatan kerja, hanya demi gengsi segelintir orang. fiuh…. kapan ya sistem kapitalis ini tumbang tergantikan oleh sistem yg penuh keadilan dan menjamin kesejahteraan org2 yg berlindung di dalamnya…

  10. pernah baca “invasi politik dan budaya”nya salim fredericks? ato apa aja lah… pokoknya yg menjabarkan fakta bahwa para kapitalis nike, adidas, GAP, dll yg sok bermerk itu membuat produksinya sebenarnya di negara2 berkembang dg buruh2 negara2 tsb, bahan2 dari negara tsb. misal adidas ni…buatnya sebenarnya di Indonesia,bahan2nya dari Indonesia trus distempel si Adidas, jadi deh…barang ber”merk”. so, ngapain juga bangga dg barang2 ber”merk” kayak gitu? mending klo buatan dalam negri. at least balik modalnya dan muter2 uangnya juga di dlm negri aja. La ini, kita cuma ditipu, dieksploitasi oleh para kapitalis di atas. buruh2 tsb harus kerja 15 jam/hari, gaji murah, gak ada jaminan kesehatan&keselamatan kerja, hanya demi gengsi segelintir orang. fiuh…. kapan ya sistem kapitalis ini tumbang tergantikan oleh sistem yg penuh keadilan dan menjamin kesejahteraan org2 yg berlindung di dalamnya…

    # riza:
    makanya ayo dibasmi😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s