Hikmah Menggoreng Tempe

Akhir-akhir ini hampir setiap pagi saya harus bantuin ibu memasak. Aktifitas cewek yang saya tinggalkan ketika kuliah dan bekerja di Surabaya. Setelah agak lama tinggal di rumah, bukan berarti saya mahir masak. Masak buat sarapan kan mudah, tinggal goreng-goreng, masak-masak, tumis-tumis. Kalau masak buat makan siang dan makan malam itu yang susah. Masak ronde kedua ini dilakukan di waktu jam 10an. Namun seringkali belum selesai sudah saya tinggal ngacir keluar rumah. Atau kerjakan sesuatu yang lain. Ga tahan di dapur lama2, meski dapurnya terkategori nyaman. Wah kasian misua nanti, nih anak males masak :((

Btw entah kenapa pagi ini ada pikiran lain yang merasuk ketika menggoreng tempe.

Pertama, bahwa tempe adalah makanan fave saya. Bukan karena saya suka tempe maka saya terkategori cah ndeso. Seorang mahasiswi magister Jepang pun mengakui kalau makanan favenya tempe. Dia orang kota lho. Waktu itu dia main ke laboraturium IBS dan nimbrung di area cewek. Ketemuan deh sama saya dan beberapa teman. Kami ngobrol pake bahasa inggris. Ternyata bahasa inggris kami sama2 patut diacungi jari telunjuk sambil dikatai ‘kalian keterlaluan… sudah perguruan tinggi tapi..!!’. Betapa tidak, ketika saya tanya paper dia yang dibawa ke seminar ICT tentang apa, dia bilang e-running. Pikiran saya langsung menelisik tentang pelarian elektronik. Wow, apa itu. Setelah berputar-putar tanpa kepastian yang membuat kami semakin bingung maka saya minta saja dia tuliskan kata itu. Ternyata e-learning. Oalah…

Kedua, ketika saya hendak membalik tempe yang sedang saya goreng lalu mengambil sutil*nya, ups ternyata panas. Saya kepikiran ini baru sutil, gimana wajannya? Sambil harap-harap cemas saya coba sentuh wajan yang sedang dipakai itu dengan jari telunjuk. Benar… wajannya lebih panas. Kalau ini anak TK juga tahu😀. Ini wajannya, lalu bagaimana dengan minyaknya? Atau apinya? Lalu bagaimana dengan neraka? Sedangkan penghuni neraka bisa tidur ketika merasakan api dunia.

“Azab yang paling ringan di neraka pada hari Kiamat adalah seseorang yang pada dua telapak kakinya ada dua bongkah bara api, lalu bara api ini akan merebus otak orang tersebut.” [HR. At-Tirmidzi]

Saya sempat menghela nafas jika mengingatnya.
Ya Allah sanggupkah aku?
Sementara aku tak pantas mendapat surgaMu?
Ya Aziz… bermurah hatilah pada hambaMu yang lemah ini

*) Alat untuk menggoreng, membolak-balik gorengan. Kalau penamaannya salah silakan dikoreksi karena ini menggunakan bahasa ‘java’.

3 responses to “Hikmah Menggoreng Tempe

  1. Suka tempe juga ya mba? wah saya juga suka tuh pokoknya makanan dari kedele [kedelai olahan maupun yang belum diolah..] dari tempe tahu kecap sari kedelai, susu kedelai, toge.. [kayak tukang sayur ajah.. yuk.. sayur2 sayur beli- beli..]

    Maksaih udah mampir ke blog ku ya mbak..

  2. oo… mahasiswi S3 itu…
    He2.. kita nyasar ke earring juga :p
    karena dirasa aneh [masak seminar tentang anting2], diganti jadi earphone.
    Oalah, ternyata e-learning
    [payah]
    aku juga suka tempe😀

    # riza:
    inget juga ya…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s