Roda Waktu

Kenapa waktu berjalan begitu cepat?
Rodanya menggelinding mengenai tubuh setiap orang
Yang punya hati yang punya akal
Yang punya jiwa yang tak kekal
Sedang jejak rodanya menjadi tumpukan kertas
Yang menjadi sebuah kitab bertajuk sejarah
Kalau begitu…
Bukankah waktu itu sangat berharga?
Sekali lagi karena rodanya mengenai setiap orang

Ya Rabb ya Mushii yang menguasai waktu
Jangan jadikan kami orang yang tergilas roda waktuMu
Dan mati begitu saja tanpa ada jejak yang tertinggal
Sehingga tangan ini hampa di saat perjumpaan denganMu

Laa Tahzan

BBM bakal naik lagi,
bagaimana dengan kebutuhan pokok nanti?
bagaimana dengan perusahaan tempatku bekerja?
bagaimana dengan usahaku?
bagaimana dengan kebutuhan pendidikan anak-anak?
bagaimana …
bagaimana …

Jika waktu terus bergulir. Setelah senin ada minggu. Begitulah tiba-tiba datanglah lagi hari senin. Semuanya terasa cepat seolah-olah kita hanya berjalan sepenggalah. Jika hari-hari kita dilumuri kepahitan, bukankah hari-hari itu adalah hari yang cepat berlalu. Sedangkan Yang Maha Kasih menyiapkan hari yang multi durasi.

Lalu kenapa bersedih jika Allah mengganti kepahitan sesaat dengan rasa manis semanis madu selama berabad?

“Setiap musibah yang menimpa seorang mukmin, berupa sakit yang berterusan, sakit yang biasa, kebingungan, kesedihan, kegundahan hingga duri yang menusuknya, maka pasti musibah itu akan menjadi penghapus bagi kesalahan-kesalahannya.”(Mutafaq alaih)

Jadi jika sedih, ingat saja nilai nol yang menghiasi daftar dosa di buku catatan amalan yang kita terima kelak di saat tiap insan berada dalam ketakutan yang luar biasa. Semua pasti ingin bukan? Semoga segala musibah yang kita alami bisa mengenolkan dosa-dosa kita dan meringankan beban di hari penghisaban kelak.

Berita Basi tentang Yang Instan – Instan

Kenapa baru kenal sekarang? Kenapa tidak dari dulu saja? Tapi tak apalah, toh lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Beberapa waktu lalu saya diminta membuatkan web sebuah instansi. Saya, lulusan IT yang gaptek ini langsung membayangkan bikin website pake php secara manual. Yah itu kerjaan saya pas di Surabaya, mbuat aplikasi web bareng teman2. Jadi saya pikir saya pasti bisa. Bukankah ‘you can if you think you can’?. Lagian saya pikir, daripada pikiran nganggur toh saya agak terbiasa pakai php. Akhirnya saya terima saja. Namun ketika saya pikir2 lagi ternyata banyak fitur yang akan menghabiskan banyak waktu misal buat upload dan edit artikel, Menata letak menu-menunya… hiks pasti lama banget dan bikin pusing.

Tersebutlah sohib lama saya yang tinggal di Jombang datang bersua. Setelah cerita ngalor ngidul, akhirnya kok ya kami nyemplung ke bahasan website. Dia sudah bikin website untuk sekolahnya, namun belum di upload. Dia pakai CMS. Hah CMS? Content Management System? pernah dengar dari dosen pemrograman web, tapi belum pernah mencicipi. Tenyata saya ga sadar kalau selama ini saya tuh gaptek banget. Ga tahu kalau ada cara mudah bikin web. Instan banget. Ibarat mie ada mie goreng ada mie godog. Tapi ada juga mie instan yang lebih praktis dan ga kalah enak, meski yang mbuat bukan koki yang ahli. Ternyata begitu juga web. Ada cara instan bikin web yang bisa sehari jadi (tapi ga tanggung jawab kualitasnya kalau cuma sehari). Pakai CMS, dan yang kami pilih adalah joomla bukan indomie. Gapapa deh sebut merk, sekalian promosi toh saya sudah diuntungkan dengan tools ini. Tinggal copy paste, install, upload template, edit-edit… jadi deh. Tapi kentara banget kalau webnya pake CMS, banyak web yang bentuknya mirip. Dan ada beberapa component yang ada nama sumbernya. Wassalam deh bikin web yang ribet. Tapi untuk aplikasi sistem informasi belum bisa pakai CMS. Kalau semuanya bisa serba instan, gak laku dong koki dan programmer. Apalagi buat yang cuma bisa masak sopware.

special thanks to my dear… eva qqqq

Pesan Dari Bintang

Untuk wanita-wanita
yang lekat dengan indahnya langit malam …
yang selalu terpesona dengan temaram cahaya bintang …
yang dilahirkan ke dunia untuk berpikir cemerlang …

Malam ini langit terang. Bintang gemerlap di atas ufuk menyapa ramah. Seakan ingin bercerita banyak tentang kehidupan. Ya! jangan lupa, mereka adalah saksi bisu terajutnya lembaran sejarah dunia.

Sentuhan angin malam lebih mendramatisir suasana, membuatku lebih tenggelam dalam imajinasi bayangan masa lalu. Dimana saat itu, bintang juga bersinar. Menebarkan pesonanya yang menghibur. Di ujung balkon sebuah istana berdiri seorang permaisuri raja yang seakan mengajaknya berdialog. Memandangnya takjub. Takjub dengan kebesaran yang menciptakan tebaran intan nirwana itu.

Dia mencurahkan isi hatinya pada Tuhannya, tentang kezaliman suaminya. Kegundahan hatinya ketika ingin mempertahankan imannya. Asyiah istri al-Farauq, akhirnya dia memilih Tuhannya walau harta, jiwa dan penghormatan harus dicabut dengan tidak hormatnya.

Bintang di atas sana tampak semakin lincah berkedip. Seolah mengajakku melompat ke suatu masa yang lain. Ke atas balkon istana yang lain. Dimana seorang permaisuri raja memandangnya dengan binar kebahagiaan. Sambil menggenggam secangkir anggur kelas bangsawan. Dia tersenyum menawan dan bersulang pada sang bintang demi kemewahan. Kemudian dia berpaling sambil mengibaskan gaun aristokratnya dan kembali tenggelam kedalam salah satu dari ratusan pesta megah yang dibuatnya.

Maria Antoinette, walau dia tak perduli pada Tuhannya, akhirnya harta, jiwa dan penghormatan juga harus dicabut dengan tidak hormatnya.

Dua kisah wanita yang dikelilingi kemewahan dan berakhir tragis.
Serupa tapi tak sama. Tampak sama tapi bermakna beda. Makna yang perbedaannya sangat berarti bagi setiap jiwa. Yang satu telah menjalani hidupnya selayaknya dia diciptakan. Hingga Tuhan pun menyanjungnya dalam kitab suciNya. Yang lain mendapat cela dari jutaan orang yang membaca kisahnya. Dan yang paling penting, bagaimana Tuhan menyikapinya kelak?

Bulu kudukku semakin merinding. Entah sudah berapa kali bintang itu menjadi saksi kehidupan wanita-wanita hebat seperti Asyiah. Atau wanita-wanita tidak beruntung seperti permaisuri Louis XVI.

Bintang masih terus berkedip, tanpa lelah. Telah dan terus menyaksikan putaran roda sejarah. Yang akan terus berputar hingga nanti ketika Israfil meniupkan sangkakalanya.
Sementara di sini ada aku dan kau. Yang entah akan menjadi wanita hebat atau….

Bintang itu masih akan terus bersinar indah,
meski pengagumnya sudah menyatu dengan tanah.

* mei 2005

Saat Yang Paling Menentukan

Pagi sekitar jam 6 di halaman masjid al-Azhar diadakan kajian ahad pagi untuk yang kesekian kalinya. Cukup ramai juga ahad ini. Seperti biasa, dengan beralaskan tikar dan perlak para hadirin duduk untuk menerima sembako ilmu dari pak ustadz. Kali ini yang mengisi acara adalah ustadz Farid Dhofir dari pesantren Maskumambang, Gresik. Dalam kajian ini dikupas tentang siklus hidup manusia yang terdiri dari 4 tahap, yaitu:
1. Alam ruh
2. Alam dunia
3. Alam barzah
4. Alam akhirat

Di alam ruh sebelum manusia dilahirkan ke dunia, manusia bersumpah kepada Allah untuk menjadi hamba yang taat setelah dilahirkan ke dunia nanti. Setelah lahir, maka manusia merasakan bagaimana sebenarnya dunia itu. Inilah saat-saat yang paling menentukan. Alam dunia adalah alam beramal . Alam yang singkat tapi sangat menentukan. Amalan di dunialah yang menentukan bagaimana kehidupan jangka panjang manusia di alam yang kekal, yaitu akhirat. Namun sayangnya alam ini sangat melenakan dan memilki banyak tipuan. Manusia harus senantiasa berhati-hati menjalaninya karena sekali lagi ini adalah masa yang paling menentukan. Continue reading

Ingin Menjadikan Bandung Seperti Hollywood?

Dari Jawa Pos 1 Mei 2008, mantan aktor Dede Yusuf yang baru saja terpilih sebagai sebaga wagub Jabar mengeluarkan statement yang menarik untuk dikritisi. Dia ingin mengubah kota Bandung menjadi seperti Hollywood. Dede punya obsesi untuk menjadikan daerah yang dipimpinnya menjadi seperti Hollywood AS. “Selain dimanfaatkan untuk sineas dalam negeri, lokasi tersebut bisa digunakan perusahaan asing yang berniat syuting di Indonesia, ” tegasnya. Saya kaget dengan keinginannya ini.

Jika memang benar direalisasikan… maka jika dilogika, karena ada prioritas untuk memajukan industri perfilman di Indonesia maka pasti ada bidang lain yang terkurangi jatah perhatiannya seperti industri pangan dan informasi yang begitu penting untuk menyokong kemajuan bangsa. Begitu juga Bogor yang memiliki IPB. Yang sangat potensial sebagai jantung pengembangan teknologi pangan di Indonesia. Saya rasa bidang-bidang itu lebih tepat dijadikan obsesi oleh seorang pejabat. Continue reading