Seperti Shalat Malam Semalam Suntuk

Ketika tarawih, saya melihat ada sebagian orang yang pulang sebelum witir bersama imam. Mungkin karena ingin shalat tarawih lagi. Atau ada yang ambil 8 rakaat saja terus witir sendiri karena imam melaksanakan 23 rakaat. Atau mungkin karena alasan-alasan lain. Namun saya teringat dengan hadits yang menjelaskan pahala shalat tarawih bersama imam hingga selesai. Pahalanya seperti shalat malam semalaman penuh. Kalau memang ada keistimewaan ini, knapa ga sholat bareng imam aja sampai selesai?

Hadits dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu dia berkata:

Kami puasa tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memimpin kami untuk melakukan shalat (tarawih) hingga Ramadhan tinggal tujuh hari lagi, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami kami shalat sampai lewat sepertiga malam. Kemudian beliau tidak keluar lagi pada malam ke enam (tinggal 6 hari lagi – pent). Dan pada malam ke lima (tinggal 5 hari – pent) beliau memimpin shalat lagi sampai lewat separuh malam. Lalu kami berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Seandainya engkau menambah lagi untuk kami sisa malam kita ini?’, maka beliau bersabda:

« مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتىَّ يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ »

Barang siapa shalat tarawih bersama imam sampai selesai maka ditulis baginya shalat malam semalam suntuk.”

Kemudian beliau tidak memimpin shalat lagi hingga Ramadhan tinggal tiga hari. Maka beliau memimpin kami shalat pada malam ketiga. Beliau mengajak keluarga dan istrinya. Beliau mengimami sampai kami khawatir tidak mendapatkan falah. Saya (perowi) bertanya ‘apa itu falah?’ Dia (Abu Dzar) berkata ’sahur’. (HR. Nasa’i, Tirmidzi, Ibn Majah, Abu Daud, Ahmad, Shahih)

Malu

Akhir-akhir ini ketika tarawih di masjid saya selalu memperhatikan seseorang. Seorang anak muda yang umurnya di bawah saya. Saya selalu mencari-cari apakah dia datang tarawih di sana ataukah tidak. Lho kok? ada apa kok segitu perhatiannya.

Saya ndak kenal anak itu. Yang membuat saya jadi perhatian adalah karena kondisi fisiknya. Kakinya yang folio x, membuatnya lebih susah berdiri dibanding orang normal. Apalagi berjalan. Namun demikian selama saya tarawih di masjid yang jaraknya agak jauh dari rumah saya itu, dia terlihat tidak pernah absen.

Perasaan malu jadi muncul tatkala ba’da berbuka puasa rasa malas ke masjid muncul. Tentu karena mengingat saya jauh diberi kemudahan daripada anak itu. Kemudahan untuk berdiri, berjalan bahkan berjingkat. Apalagi untuk pergi ke masjid saya ada fasilitas yang lebih dibanding anak tersebut yang naik sepeda pancal. Ya, masjid yang kami datangi memang agak jauh dari perumahan dibanding mushola atau masjid lain yang berada di tengah-tengah perumahan. Tapi saya tetap pilih masjid ini karena rakaat tarawihnya cuma 11. Beda dengan mushola depan rumah yang 23 rakaat. Kenapa pilih yang 11?
Banyak alasan, meskipun kalaupun imam sholat 23 rakaat saya bakal ngikut aja. Selain hemat energi :mrgreen: , yang paling penting adalah terjaganya salah satu rukun shalat, yaitu thuma’ninah. Daripada ada syak di hati ketika mengikuti yang 23 rakaat karena pernah saya heran kok saya baru rukuk imam sudah iktidal.

Pernah saya mendapat teguran dari teman terhadap shalat saya yang tidak thuma’ninah waktu itu. Katanya thuma’ninah di setiap gerakan shalat adalah rukun shalat. Akhirnya saya browse dan ketemu. Memang benar pernah ada sahabat yang disuruh mengulang shalatnya karena tidak thuma’ninah ketika shalat. Maka mari percantik shalat kita dengan thuma’ninah. Wallahu’alam.