Membuang Bermilyar Uang??

Beberapa hari ini, suka atau tidak suka, saya harus suka buka2 amandemen UUD 45. Persiapan sapa tahu ada tes CPNS yang konon diadakan sebentar lagi. Sekalian saya penasaran dengan isinya, karena harga untuk membuat dan mengeditnya mahal banget. Milyaran. Namun setelah saya baca-baca ternyata…. biasa. Saya pikir2 sebenarnya bila beberapa orang pakar dikumpulkan untuk membuatnya, pasti hasilnya ndak jauh beda. Misal dibuat oleh 10 orang. 1 orang 10jt kan harganya 100jt. Murah banget kan untuk ukuran negara hehehe…. Syukur-syukur kalau 10 orang tadi ga mau dibayar dan ikhlas lillahi ta’ala.

Ternyata ga cuma Indonesia yang harus merogoh kocek yang tidak sedikit untuk membuat UU. Negara yang punya banyak stok orang jenius macem amrik pun sering merogoh kocek yang tidak sedikit untuk membuat UU. Namun hasilnya seringkali memusingkan kepala mereka sendiri hingga sekarang amrik sedang dilanda krisis ekonomi.

Pernah ada ’guru’ yang menceritakan bahwa pada peraturan dan UU yang dibuat pemerintah akan banyak ditemui kelemahan karena beberapa alasan. Antara lain:

  1. Pemerintah tidak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.
  2. Pemerintah terdiri dari manusia yang punya subyektivitas.Diakui atau tidak, subyektivitas itu selalu ada pada diri setiap orang. Mereka selalu berat pada segala yang dekat dengan kehidupannya. Karena bagaimanapun juga mereka butuh sesuatu untuk bertahan hidup. Juga punya rasa sayang pada keluarga, kerabat, dll. Nah kalau keluarganya guru, dia akan cenderung membuat aturan yang menguntungkan para guru. Atau juga meringankan dirinya.
  3. Tingkat pengetahuan yang diketahui manusia sampai saat ini masih jauh dari sempurna. Buktinya masih banyak manusia yang meninggal karena sakit. Juga belum bisa mengatasi krisis pangan dan energi secara total. Berarti kan iptek belum bisa mengcover semua permasalahan manusia. Apalagi ilmu sosial.

Supaya bisa menghasilkan UU yang sempurna, sepertinya tiga permasalahan tadi harus teratasi terlebih dahulu. Atau kita memerlukan peralatan sebagai berikut:

  1. Mesin waktu dan penjelajah waktunya yang bersedia mencatat kejadian di semua tahun, bulan, hari bahkan detik
  2. Robot pembuat UU yang tidak punya nafsu dan rasa takut. Robot ini juga harus punya kecerdasan 10x Albert Enstein karena dia harus tahu sejarah sedetail2nya. Harus melakukan analisa dan mengambil keputusan dengan begitu banyak variabel. Termasuk data masa depan yang telah didapat dari mesin waktu. Tapi tidak ada salahnya juga kita menengok sebuah fiksi ilmiah macem spiderman. Dr. Octopus malah bisa menghancurkan dunia dengan menggunakan robotnya yang punya kecerdasan. Kalau robot pembuat UU ini berubah jadi jahat atau dimanfaatkan orang jahat tidak menutup kemungkinan dia akan dikembangkan untuk tujuan kejahatan dan berubah jadi monster. Kalau sudah begiani bagaimana? Jika di dunia fiksi ada spiderman lalu bagaimana dengan dunia nyata? Apa harus cari Osama bin Laden?

Ternyata solusi di atas selain amat sangat mahal dan penuh resiko, juga tidak mungkin :mrgreen: . Kalau begitu pesen UU saja. Tapi kemana? Tidak mungkin juga. Kebanyakan semua manusia sama. Tidak baik2 amat, tidak cerdas2 amat, tidak independen2 amat, dan tidak jauh dari tendensi dan kepentingan.

Kembali ke ’guru’ yang bercerita. Itulah kenapa Allah mengajak manusia hidup dengan Quran. Manusia membutuhkan Tuhan untuk menyelesaikan masalah di atas. Pihak yang maha perkasa (al-Aziz), maha kaya (al-Ghaniiy), maha pandai (ar-Rasyid), maha mengetahui (al-Aliim) juga maha pengasih dan penyayang (ar-Rahman, ar-Rahiim).

Solusi sempurna untuk masalah di atas bukan? Al-Quran dan as-Sunnah adalah pilihan tepat bagi manusia di muka bumi. Kenapa Islam? Kalau bagi saya ya karena ini agama yang benar. Tapi bagi yang tidak setuju jawaban pertama saya itu mungkin bisa memikirkan jawaban kedua. Agama Islam aturannya lengkap. Allahu’alam.

Di kesempatan yang fitri ini saya juga ingin menyampaikan SELAMAT IDUL FITRI MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN, moga semua amalan diterima