Syariah Untuk Semua: Kenapa Harus Phobi?

Liburan kemarin saya sempat jalan-jalan ke Bali. Panasnya cuaca tidak menyurutkan niat saya untuk menyisir pulau dewata yang indah. Salah satunya adalah pasar seni Sukowati. Produk yang ditawarkan di sini bagus, unik dan satu lagi alasan yang bikin rakyat jelata seperti saya suka banget…. murah. Di beberapa sudut pasar saya temukan produk yang tidak asing. Tas batok kelapa dan enceng gondok. Jadi ingat industri barang seni macam gini di Lamongan(daerah asal saya) yang katanya dikirim ke Bali juga. Kualitasnya bagus, unik dan antik. Yang menarik perhatian saya adalah satu home industri macam gini sudah bisa menyerap puluhan tenaga kerja. Itu baru tas batok kelapa. Belum barang-barang yang lain. Yah memang sering dengar dari beberapa perbincangan, sektor riil banyak menyokong perekonomian nasional. Sektor riil banyak diaktori para pengusaha menengah ke bawah. Mulai dari pengusaha barang seni bernilai tinggi sampai warung penjual minuman, ini baru yang saya indra ketika liburan di Bali. Begitu banyak orang yang bekerja di sektor riil kan. Lalu dari mana mereka mendapatkan modal usaha? Sedangkan sebagian besar dari masyarakat kita banyak yang ‘kendo’ kalau mau bikin usaha dengan alasan utama: modalnya dari mana?

Demi menyambung hidup, terkadang orang akan melakukan apa saja asalkan dia mendapatkan jalan keluar. Tak heran jika banyak rakyat kecil yang berani meminta bantuan pada lintah darat demi mendapatkan pinjaman. Untuk modal usaha kecil-kecilan. Namun dengan adanya bank konvensional yang bersedia memberikan pinjaman dengan bunga rendah, mampu membuat mereka sedikit bernafas lega. Namun sebenarnya ini juga merupakan bumerang bagi mereka, bagaimana jika ternyata usahanya kurang menguntungkan sehingga keuntungan lebih kecil daripada bunga yang harus dibayar?

Dengan angka kemiskinan di Indonesia yang masih cukup besar, membuat kasus di atas sangat mudah ditemukan di tanah air tercinta ini. Sementara orang kecil yang membanting tulang, memeras keringat demi nol koma sekian persen keuntungan yang bisa didapat atau bisa juga tidak, namun pemberi pinjaman bisa ikut menikmati hanya dengan tiduran di rumah tanpa harus kuatir menanggung rugi sedikitpun. Rasanya ini sangat tidak adil bagi orang yang memang sudah susah.

Sementara jika dirunut dari bagaimana merumuskan keuntungan seorang pengusaha, pendapatan dari usaha sangat ditentukan oleh biaya operasional dan bahan. Misalnya BBM. Ketika harga BBM kurang stabil misalnya karena krisis ekonomi dunia, maka kemungkinan pengusaha mendapatkan keuntungan yang tidak sesuai target adalah cukup besar. Contohnya adalah kasus di Tangerang. Kenaikan BBM dibarengi kenaikan bahan baku membuat banyak UKM tutup. Usaha kecil yang bangkrut meliputi pedagang kecil, pengrajin hingga industri rumahan (tempo.co.id, 5/6/2008).

Untuk kondisi yang tidak stabil, beban pengusaha kecil akan semakin tinggi ketika modal yang mereka gunakan menganut sistem bunga yang tidak berubah berapapun besar keuntungan mereka. Padahal mereka sudah mengalokasikan tenaga dan pikiran yang tidak sedikit untuk kelangsungan usahanya. Terlihat jelas sistem syariah telah sesuai untuk menangani permasalahan ini dengan haramnya riba. Perbankan syariah yang bebas dari unsur riba secara tidak langsung juga bisa menggiatkan sektor riil dari sisi pemilik modal. Bagaimana bisa?

Bagi kebanyakan orang, suatu usaha dinilai menguntungkan jika labanya lebih tinggi dari suku bunga bank. Jadi jika modal yang dimiliki digunakan untuk membuka usaha dan keuntungannya masih di bawah suku bunga bank, maka langkah yang sebaiknya diambil adalah menyimpan modal tersebut dibank saja. Tentu ini lambat laun akan mematikan sektor riil. Sistem seperti ini mendidik orang menjadi malas berusaha dan menghasilkan lapangan kerja. Kita bisa membayangkan jika tidak ada riba, bisa dipastikan perekonomian menjadi lebih giat. Semua orang berduit akan berlomba memanfaatkan uangnya untuk membuka usaha. Karena jika uangnya hanya disimpan di bank syariah, maka ada kemungkinan dia tidak mendapatkan hasil sama sekali.

Ini baru secuil hikmah dari penerapan syariah dalam dunia perbankan. Bukankah hikmah seperti ini tidak hanya bisa dirasakan bagi golongan tertentu saja? Saya yakin imbasnya bisa dirasakan oleh semua orang. Selain itu seharusnya sistem seperti ini lebih menentramkan hati karena riba memang dilarang dalam agama Islam, Kristen dan Yahudi. Jadi kenapa harus phobi dengan syariah? Namun yang terpenting bagi saya, sepandai-pandai manusia dalam menganalisa, memprediksi dan merumuskan, masih belum bisa menandingi analisa Dzat yang Maha Mengetahui dan Maha Berkuasa. Jadi sudah saatnyalah kita membuka mata, hati, pikiran dan tangan kita untuk menerima sistem syariah.

tulisan ini juga diposting di IB Blogger competition

4 responses to “Syariah Untuk Semua: Kenapa Harus Phobi?

  1. Kemandirian suatu bangsa dumulai dari kemandirian rakyatnya dalam menciptakan lapangan kerja sendiri. Mari kita cintai produk dalam negeri sendri dan mendukung pendekatan ekonomi, khusunya pembiayaan, yang non-rente. Ekonomi syari’ah sudah saatnya berkembang di negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini.

  2. kalo’ syariahnya sudah semakin sedikir yang phobi, yang penting substansinya aja diambil…..tapi kalo’ KHILAFAH masih banyak yang phobi……yang nulis phobi ndak dengan KHILAFAH????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s