Menkominfo Visit UNISLA

mnuh

To day, saturday, January 31th 2009. There is an event held by NU at UNISLA, University where i teach now. The special guest is menkominfo RI, Prof. Ir. H. Muhammad Nuh MSc, DEA. In this event, he gives speech. And then visit education exhibition which is held in this campus too. Fortunately, i bring my camera and my student success to get some Mr. Nuh’s pictures. In this moment, the one that i can’t forget that he is smiling at me while says “klu? congrat…”. (though actually i dont know much about klu-komunitas linux unisla :mrgreen: )

At the other side, i still remember a story about him when still became pens director. When maghrib time was coming, and there still was a college at his campus, he koncked the door and gave warning to the class so that they pray maghrib. Its a good example for his student. Smart in tech, smart in religion. And i hope this manner can spread and infect us. Wherever and whenever we are.

Continue reading

Advertisements

2009

Its my first post in 2009. And to day is my blog’s birthday. My first post in this blog was posted in 1 january 2008. When a lot of people celebrated new year, i was alone in my boarding house at surabaya at that time. So i decided to make my new blog after had closed my old blog at saveral time.

Inspired by some friend’s blog which is written in english, i want to do the same. But maybe sometime i’ll write my article in englsh and sometime in indonesian. Coz i want to sharp my writing in indonesian too. I hope that someday i’ll write a book. And of course the book is in indonesian.

Thanks to my friends, i got a lot of sms about new year. But for hijriyah year at the last monday. But i didnt know who the sender for some sms, so sorry if i didn’t reply them.

Ditolak

Tahun ini gagal, moga esok lebih baik. Itu yang harus saya camkan baik2. Ga boleh putus asa dan harus selalu optimis. Meskipun masih ada clekit2 di hati… hehehe…

Seperti sudah ada feeling kalau ga bakal lolos tes cpns, kajian ahad pagi di masjid al-Azhar berisi tema hidup positif dengan pembicara kang Yoto, bupati Bojonegoro. Inti dari hidup positif adalah ridho, positif thinking dan optimis begitu kira2 inti ceramah pak Yoto. Ketika seseorang ridho dengan qadha apapun, maka dia akan bisa selalu berpikir jernih untuk terus melangkah. Kegagalan atau cobaan tidak menyurutkannya untuk terus beraktivitas. Seperti misalnya beliau pernah divonis dengan jantung abnormal, namun vonis itu tidak membuatnya tenggelam dalam kesedihan. Tugas sebagai bupati terus dijalankan seperti biasa. Meskipun ada kekhawatiran bakal mati muda. Namun ternyata seminggu kemudian diketahui vonis itu salah. Teori yang sulit dipraktekkan memang… Karena 1 jam kemudian saya mendapat berita bahwa saya tidak diterima, dan akhirnya tidak bisa konsen menyimak pelajaran di akta 4.  Rasanya juga ga semangat menjalankan tugas mengajar selama 2 hari. Mungkin memang beda antara saya dan pak Yoto. Makanya beliau bisa jadi bupati sedangkan saya cuma blogger yang nyambi jadi guru :D.

Mungkin ga cuma pak Yoto, saya punya seorang teman yang luar biasa. Dengan penyakit yang sangat complicated, dia tidak pernah tampak sedih. Always ceria. Siapapun tidak akan pernah menyangka kalau dia sedang ada masalah besar dengan kesehatannya. Dan dia masih selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk diennya.  Subhanallah. Inspiring friend. Moga Allah senantiasa memberinya kebahagiaan dunia dan akhirat.

Trims banyak juga buat teman2 yang sudah kasih support. Baik via sms, telp maupun ym. Sangat membantu.
Hope Allah always give the best for us.

Best Programming Language

Iseng-iseng saya cari di google tentang best programming language. Ternyata ada juga orang iseng yang pernah melakukannya duluan. Dan didapatkan data:

Iseng2 browsing di Google pake kata kunci “best programming language” yang keluar di list no satu
http://unspun.amazon.com/Best-Progra…list/show/1045

urutannya:
1.Ruby (11379)
2.Python (1251)
3.Java (1000)
4.Lisp (721)
5.C (624)
6.Perl (506)
7.C++ (495)
8.PHP (483)
9.APL (476)
10.C# (437)
11.JavaScript (407)
12.Objective-C (262)
13.Smalltalk (254)
14.Scheme (208)
15.Haskell (158)
16.J (137)
17.Erlang (130)
18.SQL (123)
19.Basic (118)
20.Pascal (107)
21.Fortran (94)
22.Delphi (93)
23.Assembler (76)
24.K (69)
25.Ada (68)

Dan di wikiAnswer:

The two best options for High-Level Programming are Java and C++. If you are serious about programming, then you should first learn C++ and then Java. If this is a skill you would like to learn on the side, I would recommend Java. The reasons for this are as follows:

  • If you are serious about programming, C++ will give you unparalleled control of the machine. C++ includes many features that allow you to solve problems using data structures at unmatched speeds for a high-level language. Java is recommended as a second language because it is widely used and extremely useful, but it is less powerful than C++ and slower.
  • If you are not serious about programming, Java will work well. It is a very easy to use and well designed language. As a casual programmer, the reduced speed will not be noticeable, and the powerful features of C++ will not be useful.
  • If you are serious about programming, avoid learning Java first. Only when you consider yourself comfortable with C++ should you move on to Java. Compare the two languages to driving a stick shift car vs. driving an automatic. The latter is nicer, and perfectly fine if you are merely a casual driver, but if you are considering becoming a professional driver, you should be proficient at both. The same holds true for Java and C++.

Jadi buat yang kebagian tugas nyusun2 kurikulum, ada baiknya artikel ini jadi masukan. Sebaiknya pembelajaran diprioritaskan pada c++ dan java. Ga cuma di matkul OOPnya. Dengan c++ kita bisa belajar memanage memori secara manual. Juga bisa belajar bagaimana pemrograman prosedural dan bedanya dengan OOP. Kemudian diteruskan dengan java yang kebanyakan disebut sebagai bahasa pemrograman OOP sejati. Lebih stabil dalam manajemen memori, karena ada garbage collectionnya. Selain itu kelebihannya yang “write once run everywhere” patut jadi pertimbangan. Selain itu ada IDE gratis yang handal macem netbeans. Dengan demikian java bisa menjadi bahasa yang berprospek. Jadi ga rugi kan belajar c++ n java.

Membuang Bermilyar Uang??

Beberapa hari ini, suka atau tidak suka, saya harus suka buka2 amandemen UUD 45. Persiapan sapa tahu ada tes CPNS yang konon diadakan sebentar lagi. Sekalian saya penasaran dengan isinya, karena harga untuk membuat dan mengeditnya mahal banget. Milyaran. Namun setelah saya baca-baca ternyata…. biasa. Saya pikir2 sebenarnya bila beberapa orang pakar dikumpulkan untuk membuatnya, pasti hasilnya ndak jauh beda. Misal dibuat oleh 10 orang. 1 orang 10jt kan harganya 100jt. Murah banget kan untuk ukuran negara hehehe…. Syukur-syukur kalau 10 orang tadi ga mau dibayar dan ikhlas lillahi ta’ala.

Ternyata ga cuma Indonesia yang harus merogoh kocek yang tidak sedikit untuk membuat UU. Negara yang punya banyak stok orang jenius macem amrik pun sering merogoh kocek yang tidak sedikit untuk membuat UU. Namun hasilnya seringkali memusingkan kepala mereka sendiri hingga sekarang amrik sedang dilanda krisis ekonomi.

Pernah ada ’guru’ yang menceritakan bahwa pada peraturan dan UU yang dibuat pemerintah akan banyak ditemui kelemahan karena beberapa alasan. Antara lain:

  1. Pemerintah tidak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.
  2. Pemerintah terdiri dari manusia yang punya subyektivitas.Diakui atau tidak, subyektivitas itu selalu ada pada diri setiap orang. Mereka selalu berat pada segala yang dekat dengan kehidupannya. Karena bagaimanapun juga mereka butuh sesuatu untuk bertahan hidup. Juga punya rasa sayang pada keluarga, kerabat, dll. Nah kalau keluarganya guru, dia akan cenderung membuat aturan yang menguntungkan para guru. Atau juga meringankan dirinya.
  3. Tingkat pengetahuan yang diketahui manusia sampai saat ini masih jauh dari sempurna. Buktinya masih banyak manusia yang meninggal karena sakit. Juga belum bisa mengatasi krisis pangan dan energi secara total. Berarti kan iptek belum bisa mengcover semua permasalahan manusia. Apalagi ilmu sosial.

Supaya bisa menghasilkan UU yang sempurna, sepertinya tiga permasalahan tadi harus teratasi terlebih dahulu. Atau kita memerlukan peralatan sebagai berikut:

  1. Mesin waktu dan penjelajah waktunya yang bersedia mencatat kejadian di semua tahun, bulan, hari bahkan detik
  2. Robot pembuat UU yang tidak punya nafsu dan rasa takut. Robot ini juga harus punya kecerdasan 10x Albert Enstein karena dia harus tahu sejarah sedetail2nya. Harus melakukan analisa dan mengambil keputusan dengan begitu banyak variabel. Termasuk data masa depan yang telah didapat dari mesin waktu. Tapi tidak ada salahnya juga kita menengok sebuah fiksi ilmiah macem spiderman. Dr. Octopus malah bisa menghancurkan dunia dengan menggunakan robotnya yang punya kecerdasan. Kalau robot pembuat UU ini berubah jadi jahat atau dimanfaatkan orang jahat tidak menutup kemungkinan dia akan dikembangkan untuk tujuan kejahatan dan berubah jadi monster. Kalau sudah begiani bagaimana? Jika di dunia fiksi ada spiderman lalu bagaimana dengan dunia nyata? Apa harus cari Osama bin Laden?

Ternyata solusi di atas selain amat sangat mahal dan penuh resiko, juga tidak mungkin :mrgreen: . Kalau begitu pesen UU saja. Tapi kemana? Tidak mungkin juga. Kebanyakan semua manusia sama. Tidak baik2 amat, tidak cerdas2 amat, tidak independen2 amat, dan tidak jauh dari tendensi dan kepentingan.

Kembali ke ’guru’ yang bercerita. Itulah kenapa Allah mengajak manusia hidup dengan Quran. Manusia membutuhkan Tuhan untuk menyelesaikan masalah di atas. Pihak yang maha perkasa (al-Aziz), maha kaya (al-Ghaniiy), maha pandai (ar-Rasyid), maha mengetahui (al-Aliim) juga maha pengasih dan penyayang (ar-Rahman, ar-Rahiim).

Solusi sempurna untuk masalah di atas bukan? Al-Quran dan as-Sunnah adalah pilihan tepat bagi manusia di muka bumi. Kenapa Islam? Kalau bagi saya ya karena ini agama yang benar. Tapi bagi yang tidak setuju jawaban pertama saya itu mungkin bisa memikirkan jawaban kedua. Agama Islam aturannya lengkap. Allahu’alam.

Di kesempatan yang fitri ini saya juga ingin menyampaikan SELAMAT IDUL FITRI MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN, moga semua amalan diterima

Seperti Shalat Malam Semalam Suntuk

Ketika tarawih, saya melihat ada sebagian orang yang pulang sebelum witir bersama imam. Mungkin karena ingin shalat tarawih lagi. Atau ada yang ambil 8 rakaat saja terus witir sendiri karena imam melaksanakan 23 rakaat. Atau mungkin karena alasan-alasan lain. Namun saya teringat dengan hadits yang menjelaskan pahala shalat tarawih bersama imam hingga selesai. Pahalanya seperti shalat malam semalaman penuh. Kalau memang ada keistimewaan ini, knapa ga sholat bareng imam aja sampai selesai?

Hadits dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu dia berkata:

Kami puasa tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memimpin kami untuk melakukan shalat (tarawih) hingga Ramadhan tinggal tujuh hari lagi, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami kami shalat sampai lewat sepertiga malam. Kemudian beliau tidak keluar lagi pada malam ke enam (tinggal 6 hari lagi – pent). Dan pada malam ke lima (tinggal 5 hari – pent) beliau memimpin shalat lagi sampai lewat separuh malam. Lalu kami berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Seandainya engkau menambah lagi untuk kami sisa malam kita ini?’, maka beliau bersabda:

« مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتىَّ يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ »

Barang siapa shalat tarawih bersama imam sampai selesai maka ditulis baginya shalat malam semalam suntuk.”

Kemudian beliau tidak memimpin shalat lagi hingga Ramadhan tinggal tiga hari. Maka beliau memimpin kami shalat pada malam ketiga. Beliau mengajak keluarga dan istrinya. Beliau mengimami sampai kami khawatir tidak mendapatkan falah. Saya (perowi) bertanya ‘apa itu falah?’ Dia (Abu Dzar) berkata ’sahur’. (HR. Nasa’i, Tirmidzi, Ibn Majah, Abu Daud, Ahmad, Shahih)

Malu

Akhir-akhir ini ketika tarawih di masjid saya selalu memperhatikan seseorang. Seorang anak muda yang umurnya di bawah saya. Saya selalu mencari-cari apakah dia datang tarawih di sana ataukah tidak. Lho kok? ada apa kok segitu perhatiannya.

Saya ndak kenal anak itu. Yang membuat saya jadi perhatian adalah karena kondisi fisiknya. Kakinya yang folio x, membuatnya lebih susah berdiri dibanding orang normal. Apalagi berjalan. Namun demikian selama saya tarawih di masjid yang jaraknya agak jauh dari rumah saya itu, dia terlihat tidak pernah absen.

Perasaan malu jadi muncul tatkala ba’da berbuka puasa rasa malas ke masjid muncul. Tentu karena mengingat saya jauh diberi kemudahan daripada anak itu. Kemudahan untuk berdiri, berjalan bahkan berjingkat. Apalagi untuk pergi ke masjid saya ada fasilitas yang lebih dibanding anak tersebut yang naik sepeda pancal. Ya, masjid yang kami datangi memang agak jauh dari perumahan dibanding mushola atau masjid lain yang berada di tengah-tengah perumahan. Tapi saya tetap pilih masjid ini karena rakaat tarawihnya cuma 11. Beda dengan mushola depan rumah yang 23 rakaat. Kenapa pilih yang 11?
Banyak alasan, meskipun kalaupun imam sholat 23 rakaat saya bakal ngikut aja. Selain hemat energi :mrgreen: , yang paling penting adalah terjaganya salah satu rukun shalat, yaitu thuma’ninah. Daripada ada syak di hati ketika mengikuti yang 23 rakaat karena pernah saya heran kok saya baru rukuk imam sudah iktidal.

Pernah saya mendapat teguran dari teman terhadap shalat saya yang tidak thuma’ninah waktu itu. Katanya thuma’ninah di setiap gerakan shalat adalah rukun shalat. Akhirnya saya browse dan ketemu. Memang benar pernah ada sahabat yang disuruh mengulang shalatnya karena tidak thuma’ninah ketika shalat. Maka mari percantik shalat kita dengan thuma’ninah. Wallahu’alam.